Tuesday, November 12, 2019

Belajar bukan (hanya) untuk nilai

Belajar menghargai proses, sebab hasil tidak pernah mengkhianati proses. Jangan protes saat diproses, berproseslah pasti ada progres. Dalam hidup ini ada juga pelajaran yang tidak bisa didapatkan dari kurikulum dan kelas. Di luar kelas / sekolah,  ada "guru dan pelajaran" yang ada kalanya memerlukan kepekaan kita untuk menemukannya. 

Kisah yang tertuang dalam video klip singkat berikut  mungkin diawali untuk memenuhi persyaratan atau meraih nilai tertentu, tetapi saat mengerjakannya ternyata banyak menemukan mutiara-mutiara yang membuat hidup ini menjadi lebih kaya. 

1. Mengerjakan itu harus totalita, setengah mengerjakan sama dengan tidak mengerjakan. 
2. Jangan hidup dalam silver role : jangan melakukan apa yang kamu tidak ingin orang lakukan padamu, tetapi perlakukan orang lain seperti kamu ingin diperlakukan. Bahkan terkadang perlakukan orang lain seperti yang mereka inginkan. 
3. Pekerjaan menjadi terasa ringan ketika dilakukan dengan gembira dan sukacita dalam kesatuan. Pasti ada berkat di dalam kesatuan. 
4. Kasihilah orang lain (khususnya mereka yang terhilang, terpinggirkan, tak berdaya) yang ia tak mampu membalasnya dan lakukan itu seperti untuk Tuhan. Maka tidak akan pernah sia-sia, ia akan datang dan 'membayarnya'.  Kita bisa memberi tanpa kasih tetapi kita tidak bisa mengasihi tanpa memberi. 
5. Ketakutan bukanlah fakta, seringkali kenyataan tidaklah sama dengan gambaran yang menakutkan di benak kita. 


Cara belajar terbaik adalah belajar dari yang terbaik

Pengalaman bukanlah guru yang terbaik kalau belum menjadi pelajaran.  Pengalaman mungkin bukan guru terbaik, bisa jadi ia guru yang jahat karena dia memberimu sebuah ujian tanpa membekali dengan teori baru setelah melaluinya sebuah pelajaran berharga bisa ditemukan. Tetapi itu mungkin cara cepat untuk belajar.  

Adalah baik belajar dari pengalaman diri sendiri, tetapi jugalah bijak kita belajar dari kisah orang lain. 

Belajar juga bukan saja melalui kelas formal tetapi belajar dari siapapun dan kapanpun. Dibutuhkan kerendahan hati untuk mau belajar dari orang lain. 



Pahamilah soalnya terlebih dahulu sebelum menjawabnya

Terlalu sering kita mendengar  "Kamulah Terang Dunia"/ "Kamulah Garam Dunia" , sering pernyataan itu jadi tema kotbah atau perayaan. Tetapi terang adalah jawaban dari kegelapan dan garam adalah jawaban dari rasa tawar. Kita bisa menyimpulkannya dengan "Jadilah Jawaban" 

Pertanyaan yang muncul di benak saya ketika mendengar "Jadilah Jawaban" ialah apa soal (persaalan) yang harus kita jawab? Tanpa memahami permasalahan bagaimana kita bisa memberikan jawaban?

Untuk kita mengetahui masalah di sekelililing kita berarti dimulai dari kepekaan, kepedulian kita. Butuh mata yang peka/peduli yang melihat apa yang orang lain belum lihat.  Hal pertama agar bisa menjadi orang yang berdampak adalah carilah/temukan masalah di sekitar dan kemudian belajar memberikan solusi. 



Menolong anak melatih diri untuk bertanggungjawab

Apakah benar, hanya karena anak-anak - yang kita anggap masih kecil, belum tahu apa-apa itu lalu pantas untuk dibohongi?
Tidak apa salah mengajar pada mereka?
Tidak apa membohongi mereka?

Apa yang Yesus katakan mengenai hal tersebut?

"Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut. Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. Jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung atau timpang dari pada dengan utuh kedua tangan dan kedua kakimu dicampakkan ke dalam api kekal. Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu dari pada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua. Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga." (Mat 18 : 6 - 10) 

Jadi saat kita mengajar adik-adik, anak-anak kita seharusnya menjadi berhati-hati dalam pengajaran dan perilaku kita. Kata Paulus : Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu




Tolonglah orang lain supaya kamu "tertolong"

Mudah mengajarkan materi mengenai karakter seperti : sabar, kasih, murah hati, pengendalian diri secara teori. Tetapi mendengarkan pelajaran karakter tersebut bukan berarti otomatis kita telah memiliki karakter tersebut. 

Saya justru menemukan ketika siswa menolong orang lain, justru diri merekalah yang tertolong. Alih - alih menolong adik - adik belajar justru sang kakak (siswa)-lah yang belajar. Belajar apa? Belajar sabar, belajar berbelas kasih, belajar murah hati, dsb 

Bantulah adik-adikmu, jangan remehkan 'anak kecil' karena terkadang saat pertanyaan mereka ajukan dalam kepolosan dan kejujuran itulah kita sedang belajar. Tidak heran Yesus pun berkata belajarlah dari anak-anak (menjadi seperti anak) 








Mengapa saya MENGAJAR? LAMAD adalah KUNCI RAHASIA BELAJAR yang EFEKTIF

LAMAD yang saya maksud adalah kata dari bahasa Ibrani , yang ditulis dalam huruf Ibrani : לָמַד 

Kata LAMAD ini menarik bagi saya karena LAMAD bisa dimaknai : 
a) Belajar tetapi juga sekaligus bisa berarti 
b) Mengajar (lagi) / menginstruksikan / melatih 

Berarti cara kita bertumbuh yang efektif adalah saat kita menolong (-mengajar) orang lain bertumbuh. Belajar dan mengajar saling terkait satu sama lain. 

Kita belajar agar hidup kita lebih baik, lebih benar, lebih akurat. Saat kita lebih baik maka hidup kita sadar atau tidak sedang mengajar(i) orang lain dari perbuatan atau pencapaian kita itu. Singkatnya, saat kita belajar berarti kita bertumbuh. Dan sementara kita bertumbuh maka kita sedang memperluas ruang pengaruh kita. 

Namun yang sering tak disadari ialah justru saat kita menolong orang lain justru kitalah yang tertolong, ketika kita mengajar malah kita sedang diajari sesuatu.  

Contohnya ketika kita sedang mengajar lalu mendapatkan pertanyaan yang out of the box, diberikan contoh yang belum kita ketahui teorinya, disodori realita yang bertentangan dengan teori maka itu jadi waktu berharga kita, itu jadi waktu kita 'naik kelas'. 

Anak-anak seringkali dianggap belum tahu apa-apa memang kita bisa membenarkannya tetapi karena belum tahu apa-apa itulah mereka bertanya apa saja dan dimana saja. Pertanyaan - pertanyaan yang mereka ajukan dan kita tak pernah memikirkannya sebelumnya adalah baik bagi kita. Mereka sedang menjadi guru bagi kita. 

Mat 18 : 2 - 5 Tak heran Yesus pun berkata pada kita para murid,jadilah seperti anak kecil. Belajarlah dari mereka. Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku."

Ketika kita mengajar anak-anak, jangan lupa kalau kita pun bisa dan harus juga belajar dari mereka. Merekalah dosen / guru kita. Belajar sungguh-sungguh sampai kita bisa mengajar atau belajarlah seolah engkau sedang menyiapkan diri agar bisa menolong orang lain dengan materi tersebut dan bersiap-siaplah ketika kamu mengajar sungguh-sungguh maka pasti ada yang kamu bisa dapatkan/pelajari juga  dari anak-anak/oranglain.

"Jadilah seorang murid yang belajar tanpa menunggu guru, dan berbagilah tanpa menunggu menjadi yang terbaik."